
Pathiraja Dharmasena/90 mins/Sri Lanka/1978/B&W/35 mm

Dharmasena Pathiraja, selama masa sekolahnya di Dharmaraja College di Kandy, ia telah tertarik pada semua bentuk kesenian dan sastra. Masuk Universitas Peradeniya di tahun 1963, Pathiraja memperlihatkan ketertarikan pada dunia perfilman.Mendapatkan gelar kehormatan dari Universitas Ceylon, Sri Lanka dalam bidang Kebudayaan Sinhala dan Klasik Barat. 1963 -1967 mendapatkan gelar M.A di bidang Drama, Universitas Peradeniya, Sri Lanka. Gelar PhD di bidang Studi Sinema tahun 1992 dari Universitas Monash, Melbourne, Australia. During his school days at Dharmaraja College in Kandy, he had been interested in all forms of art and literature. Entering the Peradeniya University in 1963, Pathiraja showed an active interest in the film society. Honours graduate of University of Ceylon, Sri Lanka in Sinhala and Western Classical Culture. 1963-1967 M.A in Drama, University of Peradeniya, Sri Lanka. 1992 PhD in Cinema Studies, Monash University, Melbourne, Australia. Eric Sasono, sempat membuat film pendek sendiri, berjudul 4 Sisi yang sempat ditayangkan di Shortshorts Festival Film di Jepang dan Gay and Lesbian Festival di Hamburg. Sempat pula menjadi tim penulis untuk skenario film layar lebar Brownies yang disutradarai Hanung Bramantyo dan diproduksi oleh Sinemart. Eric kemudian menghentikan kegiatannya menulis skenario dan memfokuskan diri sebagai kritikus filmTulisan Eric dapat ditemui di berbagai media cetak di Indonesia seperti harian Kompas, Koran Tempo, dan beberapa media lain seperti Playboy Indonesia, Majalah F, Gatra dan Tempo. Lewat tulisan-tulisannya, Eric, mendapat penghargaan kritikus terbaik dari Dewan Kesenian Jakarta (2005) dan Piala Citra (2005 dan 2006). Bersama beberapa kritikus film lain, Eric kini mendirikan dan menjalankan website yang mengkhususkan diri dalam penulisan di bidang film, www.rumahfilm.org. Eric juga mengedit buku berjudul Kandang dan Gelanggang, Sinema Kontemporer Asia Tenggara, yang diterbitkan oleh Yayasan Jurnal Kalam pada tahun 2007. | Tahun ini banyak film reflektif, menyentuh dan independent. Film-film itu dibuat oleh mereka yang memang memiliki ‘sesuatu’ untuk dikatakan. Film-film itu menunggu berbicara pada Anda. He directed short film titled 4 Sisi that screend at Shorshorts Film Festival, Japan and Gay and Lesbian Film Festival at Hamburg. His first commercial feature film, as scriptwriter, is Brownies that directed by Hanung Bramantyo and produced by Sinemart. Then Eric stops his career as scriptwriter and focus as film critic. His writings publish at national print media (newspaper and magazine) such as Kompas, Koran Tempo, and Playboy Indonesia, Majalah F, Gatra and Tempo. Eric awarded as The Best Criticus from Dewan Kesenian Jakarta (Jakarta Art Board), 2005 and Piala Citra (Indonesian Film Festival), 2005 and 2006. Cooperate with other film criticus, Eric establish and running website cinema, www.rumahfilm.org. He’s editor of Kandang and Gelanggang, Sinema Kontemporer Asia Tenggara (Cage and Arena, South East Asia Contemporary Cinema), publish by Yayasan Jurnal Kalam, 2007. Lisabona Rahman, bekerja sebagai program manager dai kineforum, program ruang sinema milik DKJ yang dimulai tahun 2006. Ia juga sebagai kontributor kritik film dalam The Jakarta Post (Indonesia) dan menulis publikasi internasional tahunan untuk the International Film Guide (Inggris). Sejak tahun 1999 ia terus mengorganisir pemutaran film, diskusi dan pameran berbasis film. Ia berpartisipasi sebagai programmer atau juri internasional di beberapa festival di Indonesia dan internasional.Lisabona Rahman has been working as program manager of kineforum, DKJ’s programmed cinema space since late 2006. She was a contributing film critic for The Jakarta Post (Indonesia) and writes annual publication of international the International Film Guide (UK). Since 1999 she continues to organize film screenings, discussions and film-related exhibitions. She participates as programmer or international jury in several festivals in Indonesia dan abroad. |
Paolo Bertolin is an Italian film critic and journalist, currently residing in Berkeley, California. He has contributed to a wide range of Italian publications, including film magazine Cineforum and newspaper Il Manifesto. He has also been a correspondent for The Korea Times and The Jakarta Post and writes regularly on www.koreanfilm.org. Last year he was selected as a trainee of FIPRESCI at the Rotterdam International Film Festival. Yudi Ahmad Tajudin, sutradara teater peraih gelar “sutradara terpilih 2006” versi majalah Tempo ini adalah direktur artistik dan salah satu pendiri Teater Garasi, salah satu kelompok teater terdepan di Indonesia yang terkenal dengan karya-karya eksperimental dan cutting-edge. Di bawah kepemimpinannya Teater Garasi telah mementaskan karya-karyanya di panggung-panggung internasional semacam Insomnia 48-Singapore, In Transit Festival-Berlin, Physical Theatre Festival-Tokyo. Ia juga terlibat dalam banyak forum dan proyek kolaborasi lintas disiplin, seperti Whalers in The South Seas-Tokyo (2000), dan Mnem[a[syne – Tokyo (2006). Ia juga berpartisipasi dalam Knowledge Laboratory Program, suatu forum yang mempertemukan praktisi seni pertunjukan, peneliti dan art-historian, yang diselenggarakan Hause der Kulturen der Welt, Berlin 2005. Tahun lalu, 2008, ia berkolaborasi dengan perupa Jompet Kuswidananto dalam pameran dan pertunjukan karya Java’s Machine: Phantasmagoria, di Yokohama Triennale, Jepang. This “2006 Best Play Director” from Tempo Magazine is artistic director and one of the founding fathers of Teater Garasi, one of the best theater group in Indonesia which known for their cutting-edge and experimental works. | Along with him, Teater Garasi has played their works on international stages such as Insomnia 48-Singapore, In Transit Festival-Berlin, Physical Theatre Festival-Tokyo. He’s also involved in some forums and collaboration projects, like Whalers in The South Seas-Tokyo (2000), and Mnem[a[syne – Tokyo (2006). He participated in Knowledge Laboratory Program, a meeting forum for performance art artists, researchers and art historian, held by Hause der Kulturen der Welt, Berlin 2005. Last year, he collaborated with fine artist Jompet Kuswidananto in exhibition and performance Java’s Machine: Phantasmagoria, in Yokohama Triennale, Japan. Seno Joko Suyono, lahir 8 Februari 1970 di Malang. Pernah kuliah di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada Jogjakarta. Selama mahasiswa belajar menulis kecil-kecilan di beberapa media massa lokal di Jogjakarta. Pernah bekerja sebagai wartawan di majalah D&R, dari 1997 sampai majalah itu tutup karena krisis moneter.Sekarang bekerja di majalah Tempo. Tulisannya yang telah dibukukan adalah Tubuh yang Rasis: Telaah Kritis Michael Foucault atas Dasar-Dasar Pembentukan Diri Kelas Menengah Eropa (2002). Born at Februari 8, 1970 in Malang. Studied in Faculty of Philosophy, Gadjah Mada University, Yogyakarta. During his time as a student, he wrote for several local media in Yogyakarta. Worked in D&R magazine, since 1997 to the closing time of the magazine due to monetary crisis. Currently, he works for Tempo magazine. His published writings, such as Tubuh yang Rasis: Telaah Kritis Michael Foucault atas Dasar-Dasar Pembentukan Diri Kelas Menengah Eropa (2002). |
Idha Saraswati, lahir di Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah pada 13 Februari 1983. Ia adalah penonton dan penyuka segala jenis film yang menurutnya telah dibuat sedemikian rupa sehingga hasilnya cukup masuk akal. Ia menonton film untuk refreshing. Selama belajar di Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada, ia semakin banyak menonton film karena sering mendapat inspirasi untuk menulis paper kuliah dari sana. Ia tidak suka sinetron. Saat ini ia menjadi jurnalis di harian Kompas dan bertugas di kantor biro Yogyakarta.Idha Saraswati wasw born in Karanganyar, Central Java at February 13, 1983. She loves every kind of movies which she thinks has been made in such a manner so that the results are excellent. She watch film for refreshing. When she studied in International Relations major, Faculty of Politics and Social Science, University of Gadjah Mada, she watch more and more films because she could get inspirations to write her papers. She dislike sinetron (soap opera). Currently she works as journalist at Kompas (national newspaper). Zamzam Fauzanafi, peneliti dan pemateri dalam bidang Antropologi Visual dan fasilitator video komunitas. Lulusan Antropologi UGM dan Granada Centre For Visual Anthropology, University of Manchester, UK dengan spesiasialisai di bidang Ethnographic Documentary. Sekarang bekerja di Yayasan Kampung Halaman dan aktif di Rumah Sinema. Kontak:
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
,
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
Zamzam Fauzanafi, is a researcher and lecturer in Visual Anthropology and community video facilitator. | Graduated from Anthropology, University of Gadjah Mada and Granada Centre For Visual Anthropology, University of Manchester, UK with Documentary Ethnographic specialization. Now, he works in Yayasan Kampung Halaman and active in Rumah Sinema. Contact:
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
,
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
Kusen Alipah Hadi saat ini aktif bekerja sebagai Direktur Yayasan Umar Kayam, peneliti di Yayasan Pondok rakyat dan sebagai Manajer program Biennale X 2009. Ia tertarik pada bidang komunikasi publik, penelitian pengembangan komunitas dan manajemen organisasi non pemerintahan. Sebelumnya ia pernah menjadi staf pengajar di FISIPOL Atmajaya Yogyakarta, Koordinator Penelitian dan Workshop di Kalangan Anak Zaman Yogyakarta dan Peneliti Muda di Pusat Penelitian dan Pengembangan Pariwisata UGM. Ia juga pernah menulis skenario film puisi untuk advokasi kekerasan politik Indonesia berjudul “Inilah Pamflet Itu!” di tahun 2005. Dua buku yang pernah ia tulis adalah Keping Riwayat Teater Kontemporer di Yogyakarta (2000) dan Dasar Pemikiran untuk Pengembangan Kawasan Prambanan (1999).Kusen Alipah Hadi is currently working as Director of Umar Kayam Foundation, Researcher at Pondok Rakyat Foundation and as Program Manager Biennale X 2009. He is attracted in some research fields such as public communication, community development research and non governmental organization management. Before, he was active as lecturer staff in FISIPOL Atmajaya Yogyakarta, junior researcher of the Tourism Development and Research Center at the Gadjah Mada University. He also wrote a poetry film scenario for Indonesian politics of violence advocate titled “Inilah Panflet Itu!” on 2005. He wrote 2 books titled “Keping Riwayat Teater Kontemporer di Yogyakarta” (2000), and “Dasar Pemikiran untuk Pengembangan Kawasan Prambanan” (1999). |
Arik, Ashari A Rahman atau yang lebih dikenal dengan Arik ini lahir di Sampang, 7 September 1980. Pria yang menyukai Rolling Stones dan The Doors ini aktif di dunia perfilman sejak tahun 2003. Beberapa pencapaiannya adalah sebagai Programmer di Independen Film Surabaya (INFIS), Komite Film dalam Dewan Kesenian Surabaya, tim seleksi LA Light Film Gue Cara Gue untuk kota Surabaya, Supervisi Produksi untuk film LA Light Film Gue Cara Gue untuk kota Surabaya, Programmer di Cine Club CCCL. Ia juga beberapa kali terlibat dalam produksi film pendek dan panjang yang dilakukan di seputar Surabaya dan Jawa Timur.Ashari A Rahman or well-known as Arik was born in Sampang, September 7, 1980. This man who loves Rolling Stones and The Doors is active in film activities since 2003. Some of his achievements are as Programmer in Surabaya Film Independent, Film Committee in Surabaya Art Council, selection team of LA Light Film Gue Cara Gue in Surabaya, Production Supervisor for film LA Light Film Gue Cara Gue in Surabaya, and Programmer in Cine Club CCCL. He also involved in several feature and short film productions around Surabaya and East Java. Popo, BW Purba Negara yang terlahir tahun 1983 di selatan Gunung Merapi ini hanyalah pemuda sederhana yang cenderung tidak produktif dan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk merenung. Secara kebetulan salah satu hasil renungannya yang berjudul "MUSAFIR" mendapatkan apresiasi yang sangat bagus di ajang Berlinale Shorts - Berlin International Film Festival 2009. Sebelum itu,karyanya yang berjudul "Cheng-Cheng Po" mendapatkan piala Citra sebagai Film Pendek Terbaik pada Festival Film Indonesia 2008 dan meraih sejumlah penghargaan di berbagai | festival yang lain. Saat ini ia tengah sibuk berdoa agar bumi nusantara terbebas dari angkara murka. BW Purba Negara who was born in 1983 in South of Merapi mountain. He is only a simple guy who is not productive and spending time by daydreaming. Accidentally one of his daydreams called “MUSAFIR” got a good appreciation in Berlinale Shorts – Berlin International Film Festival 2009. Before, his work “Cheng-Cheng Po” got Citra Award as The Best Short Film in Indonesian Film Festival 2008 and also reached several awards in other film festivals. Currently, he’s busy to pray for his homeland free from brutality. Ridla, Ridla An-Nuur Setiawan yang lahir di Bandung 20 tahun silam ini aktif di dunia perfilman Bandung, diantaranya adalah Salman Film dan Forum Filmmaker Pelajar Bandung. Beberapa pencapaian yang pernah diraih adalah Best film untuk “Gue vs Koruptor” di Short Film Competition KPK sebagai Produser, Best Film and Best Favorit Film dalam “Mengapa Harus Diam” dalam The Body Shop Documentary Film competition 2008 sebagai Manager Produksi, Best Editing Film untuk “Benting” dalam Phenomenon Film Festival di Jatinangor sebagai Asisten Sutradara.Ridla An-Nuur Setiawan who was born in Bandung 20 years ago, has been active in Bandung film communities, such as Salman Film and Forum Filmmaker Pelajar Bandung. Some of her achievements are Best Film for “Gue VS Koruptor” in Short Film Competition KPK as Producer, Best Film and Best Favorites Film for “Mengapa Harus Diam” in The Body Shop Documentary Film competition 2008 as Production Manager, Best Editing Film for Benting in Phenomenon Film Festival in Jatinangor as Assistant Director. |