
Lulu Hendra Komara/15 mins/Indonesia/2009

| Tahun yang berat bagi festival ini untuk memilih film, ketika telah disepakati HOMELAND sebagai tema utama festival ini. Kebanyakan film yang diproduksi di sekitaran Asia saat ini cenderung mengangkat persoalan sentimentil dan personal. Maka, saya pun berusaha menarik makna HOMELAND pada wilayah yang sentimentil dan personal. Ini karena sesungguhnya keluarga dan persoalan-persoalan pribadi menjadi akar dari persoalan sebuah bangsa dan romantisasi tentang bangsa. Invisible Children , misalnya, berkisah tentang ketidaknyamanan seorang anak dalam suasana salah didik di keluarganya karena obsesi umumnya orangtua Singapura yang tak diimbangi kekuatan persuasi terhadap hak-hak anak. Gods Cats dari Cina dan The Goat dari Filipina menuturkan persoalan sederhana tentang tanah dan binatang piaran (ternak) sebagai metafora harga diri, kekuatan sekaligus kecemasan terhadap kian merosotnya wilayah pedesaan di kedua negara. This Longing dan Agrarian Utopia, menangkap ikhtiar masyarakat di wilayah peralihan kota yang berkembang dan tradisi agraris-pedesaan yang kian terdesak. Ada dua cara menuturkan isu rasial di Indonesia. Sementara Edwin bercerita dengan penuh emosi dan luka di Babi Buta Yang Ingin Terbang, Sammaria Simanjuntak bercerita terlalu manis dan melankolis dalam Cin(t)a. Keduanya menyusupkan personalitas yang kuat ke dalam film-filmnya, semacam teriakan-teriakan kegelisahan yang sudah lama mengendap. Festival ini akan dibuka dengan sebuah film laga Merantau tentang pertanyaan-pertanyaan seorang pemuda Minang terhadap merantau, sebuah filosofi yang berakar kuat di lingkungan matrilineal yang seolah mewajibkan seorang laki-laki pergi mengadu nasib di kota besar. Saya mencerap kerapuhan dan kerinduan seorang lelaki akan kampung halaman di balik kelincahannya bermain silat membela diri. Kerinduan akan makna tanah air juga terlihat di film Malaysian Gods, ketika aroma reformasi ternyata memberi imbas pada kehidupan personal komunitas India di Malaysia. Di berbagai belahan dunia lain, musik menjadi salah satu kekuatan yang politis untuk membaca secara kritis semangat zaman. Inilah yang terjadi tatkala anak-anak muda menggunakan musik sebagai alat perlawanan dengan gaya slengekan namun tajam. Generasi Biru adalah film musikal yang mencoba menangkap semangat muda dan posisi politis anak-anak bangsa. Slingshot Hip Hop yang menjadi film penutup festival ini mendentumkan musik Hip Hop di mana kaum muda Palestina yang berjuang demi tanah airnya lewat penuturan bahasa ibunya, meneriakkan sikap kritisnya sekaligus kerinduannya terhadap rumah mereka. Tatkala usai menonton semua film, saya sampai pada kesimpulan bahwa terkadang melihat dan memahami HOMELAND bisa sangat disederhanakan dengan | menyimak musik, mengamati tetangga, dan melihat geliat anak-anak mudanya. Bukankah demikian? Tonton dan nikmati saja film-film di festival ini. It was truly a tough job to select Asian feature-length films this year once we had agreed that HOMELAND is this festival's theme. Most contemporary Asian features tend to be about personal and sentimental matters. Therefore I interpreted the meaning of HOMELAND more in personal and sentimental ways given that the personal problems have become the root of national problems and part of the romanticisation of a nation. Invisible Children tells the story of the uncomfortable conditions of Singaporean children brought about by an obsessed parent who has neglected the children's rights. Good Cat from China and The Goat from The Philippines dwell on the themes of land and use the metaphor of the animal to reflect on human dignity, power and fear from the degraded conditions in the rural areas of both countries. This Longing and Agrarian Utopia capture the conditions of the transitional society and the marginalization of agrarian tradition. There are two ways in narrating the racial issues in Indonesia. While Edwin tells about the very emotional Chinese problems in Indonesia in Blind Pig Wants to Fly, Sammaria Simanjuntak speaks about the same problem in a more melancholic and sentimental way in her film Cin(t)a. Both directors insert a personal dimension into their films, an expression of the voices of the repressed. This festival will open with an action film, Merantau, which narrates the questions of young West Sumatrans (Minang) on the meaning of merantau-- the deep-rooted philosophy in matrilineal society obligating the adult male to search for work in the urban areas far away from their home area. I sense the fragile psyche and longing of the protagonist for his homeland beyond his skills in traditional martial arts (pencak silat). The longing for the homeland is also reflected in Malaysian Gods when the political reform movements have impacted on the personal lives of the Indian community in Malaysia. In other parts of the globe, music is a critical power to understand an era. This is what happens when young people employ music in more critical ways. Generasi Biru captures the youth spirit and critical stance of the Indonesian youth. The closing film Slingshot Hip Hop narrates the Palestinian young people's struggle for their homeland by speaking in their mother tongue, expressing their attitudes and longing for their home. Having seen all the films, I arrive at the conclusion that sometimes to understand HOMELAND is to simply hear music, observe our neighbour, and see the passion of youth. Do you agree? So please, watch and enjoy the films. Yosep Anggi Noen Festival Programmer | |
| Movie List: | ||
Merantau | Agrarian Utopia | |
Invisible Children | ||
Good Cat | The Goat | |
Good Morning Luang Prabang | Generasi Biru | |
Call if You Need Me | Malaysian Gods | |
This Longing | Cambodia Dream | |
Blind Pig Who Wants To Fly | Slingshot Hip Hop |