
Tumpal C.T./18 mins/Indonesia/2006

| Film-film pendek tahun ini lagi-lagi menunjukkan tanda-tanda adanya masa depan yang cerah dalam sinema Asia di tengah dominasi cinema mainstream yang berorientasi pasar. Seperti kembang api, film pendek memberikan cahaya yang indah di langit walau berdurasi pendek bagi para penontonnya. Sebagai tambahan, film pendek selalu memberikan kebahagiaan dan kejutan kepada kita. Hide and Sleep besutan Ismail Basbeth dibuka dengan kebingunan seorang pria yang menemukan dirinya tidur dengan seorang wanita ketika ia bangun di pagi hari. Dengan alur yang sama, Aku Bukan Ismail garapan Lulu Hendra Komara bercerita mengenai kisah lama tentang pengorbanan Ismail seperti yang diceritakan di dalam Al-Qur’an dalam konteks kontemporer. Suatu hari, Gito, murid sekolah swasta di Surabaya, ditelepon ayahnya untuk pulang karena ayahnya ingin memberitahukan sebuah kabar penting. Sesampainya di rumah, si ayah memberitahukan kepadanya secara langsung untuk menyiapkan pengorbanan atas nama Tuhan karena ayahnya mendengar suara Tuhan yang menyuruhnya untuk mengorbankan anaknya. Dan tentu pada akhir film, film ini mempersuasi kita untuk menilik keyakinan beragama kita di tengah nilai-nilai modern. Lebih lanjut, kenyataan bahwa hidup kita diisi dengan hal-hal tak terduga dilukiskan secara brilian oleh Tan Chui Mui dalam Everyday-Everyday. Melalui filmnya, Mui secara menarik mengkontraskan kedangkalan hidup sehari-hari dari Ma atas harapan yang tak terduga dari partnernya Sook Chen yang ingin pergi ke Peru mencari momen penting bagi krativitasnya. Ma tak siap dengan keinginan Sook Chen yang ingin pergi jauh dan pergi darinya. Sementara, dalam My Talking Dictionary, Zoe Popham mengungkap problematika hubungan romantis antara pria Thailand dan wanitak kulit putih (Barat) ketika kendala bahasa membuat rumit hubungan mereka. Dua film pendek yang ikut kompetisi mengangkat tema musik yang menarik. Dalam Drum Lesson buatan Tumpal, kita dapat melihat bagaimana musik hampir tak memiliki batasan usia. Drum Lesson menceritakan sebuah kisah tentang seorang nenek yang ingin belajar bermain drum dari seorang pemain drum muda beraliran Death Metal. Tentu saja, ini adalah sebuah ide yang menarik dan unik karena kita tahu biasanya drum selalu diasosiasikan dengan kaum muda. Dalam Die Youngen Kan Singen besutan Ratih Prebatasari menceritakan kisah tentang Subronto Kusumo Atmojo, seorang Sukarnois dan tahanan politik Orde Bary merencanakan paduan suara militer dalam rangka menyembuhkan kesendirian dan agoninya di dalam penjara. Pesan dari kedua film tersebut jelas: musik dapat memanusiakan kita dengan memahami kebudayaan lain dan mengukur rasa sakit kita. Terakhir, dalam gaya dokumenter bebas, A La Folie besutan Sanif Olek bercerita kisah Ramayana tentang hubungan antara Sinta dan Arjuna. Seperti kita semua tahu, kisah ini tentang ujian akan kesetiaan dan pengkhianatan. Dari film-film pendek Asia yang | terseleksi kita dapar belajar bahwa film adalah media penting untuk mengekspos permasalahan manusia, namun juga membuat kita memiliki keyakinan atas manusia lainnya. This year short films again signify the promising future of Asian cinema in the domination of market-oriented of mainstream cinemas. Like firecracker, short film makes the very beautiful lights in the sky although it only has a shorted-live attraction for the spectators. In addition, short films always give us a lot joys, surprisings and twists. Ismail Basbeth's Hide and Sleep opened with the confusion of a man who found himself slept with a woman when he woke up in the morning. In the same vein, Lulu Hendra Komara's Aku Bukan Ismail (I am Not Ishmael) tells an old story about Ishmael's sacrifice as narrated in Koran in the contemporary context. One day, Gito, a student of private university in Surabaya, was rang by his father to go home because his father wanted to tell him an important issue. Once he arrived at home, his father asked him quite frankly to prepare for sacrifice in the name of God since his father has heard the voice of God to sacrifice his son. Of course, in the end of the film the director. This film persuasively invite us to test our religious faith with our modern values and fate. Moreover, the fact that our life actually filled with unexpected things is brilliantly depicted in Tan Chui Mui's Everyday-Everyday. Through her film, Mui interestingly contrasts the banality of everyday life's of Ma with the unexpected wish of his partner Sook Chen who really wants to go to Peru searching for precious moment of her creative work. Of course, Ma is not quite prepare with Sook Chen's quaint wish going to faraway country and suddenly escaping from him. Meanwhile, in My Talking Dictionary, Zoe Popham reveals the problematic of romantic relationship between Thai male and white (western) female when the language barriers became complicating their relationship. Two short films in the competition programme dwell on the interesting theme of music. In Tumpal's Drum Lesson we could see how the passion of music is almost ageless. Drum Lesson tells a story about the old granny who eagerly wants to learn how to play drum from the young drum player of Death Metal Band. Of course, this is the unique and interesting idea since we know that drum is mostly associated with young people. In the same line, Ratih Prebatasari's Die Yongen Kan Singen narrates a story of Subronto Kusumo Atmojo, a Soekarnoist and New Order's political prisoner set up a military choir in order to heal his agonies and loneliness in prison. The message of both films are clear: music is able to humanize us by understanding of the other's cultures and measuring our pains. Last but not least, in free documentary style, Sanif Olek's A La Folie tells epic story from Ramayana about romantic relationship between Sinta and Arjuna. As we all known the story is about a test of faith and betrayal. From selected Asian shorts we may learn that film is an ultimate medium to expose various human problems, but it also makes us still have faith in human beings. | |
| Movie List: | ||
Merah Putih di Rumah Parjo | My Talking Dictionary | |
Aku Bukan Ismail | Love Lost | |
Drum Lesson | Tunas-tunas Belia | |
Everyday-everyday | Hide And Sleep | |
Die Yongen Kan Singen | Karena Aku Sayang Markus | |
Last Believer | A La Folie | |
Dimana Ada Surga |