
Pathiraja Dharmasena/90 mins/Sri Lanka/1978/B&W/35 mm

| Keyakinan bahwa sinema bukan semata hiburan tapi juga merupakan bidang kajian membuat JAFF percaya pada kekuatan sinema yang mampu memberi alternatif penuturan realitas dan solusi sosial. Melihat film dan semangat kemandirian yang dibangun para penggiatnya adalah melihat realitas dunia sinema kontemporer mandiri kita: Hitam putih jalinan sistem pencarian pendanaan film, proses negosiasi kemandirian dan keberpihakan, dan bagaimana sebuah ide menjadi wujud, atau tak wujud. Tahun ini JAFF menitikberatkan diskusinya tentang kemandirian bersinema, | bagaimana pelaku cinema mandiri mencari ruang berdiri, bersikap, dan berkarya diantara lembaga donor film yang bertebaran, dan melihat kemandirian dan spirit kemerdekaan pada wilayah yang dimarginalkan: produksi film berbiaya rendah, film pendek dan independen. Seminar ini adalah sebuah bahasan tentang bagaimana pelaku sinema mandiri berangkat dan bernegosiasi dengan lembaga donor, pemodal dan sistem industri, mensiasati ide dan menegosiasikan kepentingan, etik dan pesan. Tiga Pembicara dalam diskusi ini adalah orang-orang mandiri yang berangkat dari film pendek, bekerja di industri dan bersinar di sirkuit festival. | |
| Pembicara: | ||
Meiske Taurisia/Producer. Meiske Taurisia, lahir di Jakrta, Indonesia 34 tahun yang lalu. Ia lulus dari Universitas Parahyangan, Bandung, Jurusan Arsitektur, 1997, setahun kemudian lulus dari Jurusan Desain Tekstil ITB. Pada tahun 2002, ia mendapatkan beasiswa Stuned dari pemerintah Belanda untuk memelajari Fashion, Desain dan Strategi, dan lulus bergelar Master of Art. Setelah kembali ke Indonesia tahun 2004, ia bekerja sebagai perancang busana lepas untuk video musik dan iklan TV. Ia berkolaborasi dengan Edwin dalam beberapa video musik. Ia juga bekerja untuk Jalan Sesama (Sesame Street Indonesia), program TV edukasi anak oleh Sesame Workshop US dan USAID. Hingga saat ini, ia mengajar di Lasalle College, Jakarta, untuk Jurusan Fashion dan Tekstil. "Garasi"(2005), yang diproduksi MILES films, adalah keterlibatan pertamanya dalam dunia film. Sejak itu, ia mulai sering menjadi perancang kostum untuk film. Selama keterlibatannya sebagai perancang kostum, ia mulai memelajari produksi film. Perjalanannya sebagai produser film dimulai tahun 2007 ketika ia dianugerahi Hubert Bals Script Development fund pada Cinemanila Film Festival. Lebih jauh, ia menghadiri Asia-Europe Film Meeting, Brussels, tahun 2008. Pada tahun 2008 ia mewakili film “Blind Pig Wants To Fly” pada Cinemart IFFR 2008 dan menerima HBF post-production fund, juga dari The Global Film Initiative. Tumpal TampubolonProducer/ Director Tumpal lahir pada tanggal yang sama dengan Yasujiro Ozu, 12 December. Kuliah di jurusan matematika ITB, Tumpal memilih berkarir di bidang film, karir yang tak lazim sebagai orang batak. Film pendek pertamanya “Djanggo” pada tahun 2004 terpilih sebagai salah satu finalis pada Close Up Planet Movie Competition. | Di tahun 2005 naskah film pendeknya “The Last Believer” terpilih sebagai pemenang pada Jakarta International Film Festival (JiFFest) Script Development Competition. Pada tahun 2007 ia terpilih untuk mengikuti program Asian Young Filmmakers Forum di Korea Selatan. Tahun 2008, memenangkan kembali JiFFest Script Development Competition untuk naskah film panjang pertamanya, “Anjing-anjing Jalanan” (Sidewalk Dogs). Awal 2009 berangkat ke Berlin dalam program Talent Campus, Berlinale. Kini ia bersama kedua temannya Fitrah Hardigaluh dan Rai Pandudita (keduanya juga gemar melamun) mendirikan sebuah production house di Jakarta bernama Zuura Pictures. Ifa Isfansyah/Director Ifa Isfansyah (kelahiran Yogyakarta, 1979) adalah salah satu sineas di Indonesia. Ia menyelesaikan studinya di Jurusan Televisi Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada tahun 2007. Pada tahun 2001, ia menjadi salah satu pendiri komunitas film independen bernama Fourcolours Films yang aktif memproduksi film-film pendek. Film pendeknya berkelana di sirkuit festival nasional dan internasional, “Air Mata Surga”, “Mayar”, “Huan Chen Guang”, “ Harap Tenang, Ada Ujian!” memenangkan penghargaan di Jogja-NETPAC Asian Film Festival, Festival Film Pendek Konfiden dan Festival Film Indonesia 2006, dan berhasil masuk di sesi international competition Short Shorts Film Festival 2007, Tokyo, Jepang dan Alamaty Film Festival di Kazakhstan serta Three Eyes Film Festival di Mumbai. Pada tahun 2007, ia memproduksi film pendek “Setengah Sendok Teh”. Ifa menjadi salah satu sineas Asia yang terpilih untuk mengikuti Asian Film Academy di Pusan International Film Festival 2006 dan berhasil memenangkan scholarship award di Fakultas Film dan Video Dongseo University/Im Kwon Taek Film School, Korea. Film panjang pertamanya, “Garuda Di Dadaku” telah diputar di jaringan bioskop Indonesia dan menjadi salah satu film paling laris tahun ini. Ifa juga sedang mempersiapkan proyek terbarunya “Rumah dan Musim Hujan” yang mendapatkan support dari Hubert Bals Fund dan Film Regions International. | |
| Event: 06 August 2009 15:00 WIB-17:00 WIB Taman Budaya Yogyakarta - Gedung I Book a ticket |